Kab.Agam, CR — Pemerintah Kabupaten Agam terus menunjukkan komitmennya dalam mendorong kemandirian penyandang disabilitas melalui program pelatihan vokasional yang inklusif dan berkelanjutan. Bupati Agam, Benni Warlis, menegaskan bahwa setiap warga memiliki hak yang sama untuk berkembang dan berdaya secara ekonomi tanpa terkecuali.
Komitmen tersebut diwujudkan dengan memberangkatkan tiga warga penyandang disabilitas asal Agam untuk mengikuti pelatihan vokasional di Sentra Terpadu Inten Soeweno. Program berbasis asrama ini berlangsung selama enam bulan atau lebih, disesuaikan dengan perkembangan peserta, serta dirancang untuk membekali keterampilan praktis sekaligus membuka akses kerja yang lebih luas.
Kepala Dinas Sosial Kabupaten Agam, Villa Erdi, menjelaskan bahwa pelatihan ini tidak hanya berfokus pada peningkatan kompetensi, tetapi juga memberikan peluang bagi peserta untuk terhubung dengan dunia kerja. Para peserta nantinya berkesempatan difasilitasi untuk bekerja di berbagai sektor, termasuk perusahaan BUMN, swasta, serta mitra Kementerian Sosial. Program ini resmi dimulai pada Jumat (1/5).
Tiga peserta yang diberangkatkan berasal dari latar belakang dan kecamatan yang berbeda, dengan semangat yang sama untuk bangkit dan mandiri. Habbynusa Fernanda Kifli, penyandang tunadaksa asal Palembayan, mengikuti pelatihan contact center dan pelayanan digital. Muhammad Rauf, penyandang rungu wicara dari Ampek Koto, mengambil bidang desain grafis. Sementara itu, Rori Rofia Dinata, penyandang tunadaksa asal Lubuk Basung, mengikuti pelatihan komputer.
Kepala Bidang Rehabilitasi Sosial Dinsos Agam, Hasneril, bersama pekerja sosial Hafid, mengungkapkan bahwa ketiga peserta memiliki latar belakang perjuangan yang tidak ringan. Habbynusa harus kehilangan pekerjaan setelah mengalami amputasi akibat penyempitan pembuluh darah, yang berdampak pada kemampuan menjalankan fungsi sosialnya.
Kisah serupa juga dialami Rori Rofia Dinata, yang kehilangan kepercayaan diri pascakecelakaan lalu lintas hingga harus menjalani amputasi. Namun, melalui pendampingan intensif, ia perlahan bangkit dan kembali berani menatap masa depan.
Di sisi lain, Muhammad Rauf yang merupakan penyandang rungu wicara sejak lahir, masih menghadapi tantangan dalam interaksi sosial meskipun telah menamatkan pendidikan hingga tingkat SMA di SLB. Melalui pelatihan ini, ia diharapkan mampu meningkatkan kepercayaan diri sekaligus memperkuat kemandirian.
Program ini menjadi langkah konkret Pemerintah Kabupaten Agam dalam memastikan penyandang disabilitas memperoleh kesempatan yang setara di bidang pendidikan, pekerjaan, dan kehidupan sosial tanpa diskriminasi. Seluruh biaya keberangkatan peserta turut didukung oleh Badan Amil Zakat Nasional Kabupaten Agam, sebagai bentuk kolaborasi dalam memperluas dampak kesejahteraan masyarakat.(Diwarsyah)

